HARI VALENTINE, PERLUKAH?

imagesca618gru.jpgPenentuan kapan hari jadi Surabaya mungkin masih bisa dipertentangkan.  Penentuan Hari Idul Fitri boleh muncul berbagai versi. Begitu juga Idul Adha   bisa beda hari dan tanggal. Tapi Valentine’s Day tak pernah berubah…tanpa hisab dan ru’yat selalu 14 Februari. Tapi mengapa masih ada pro dan kontra?Perayaan Valentine’s Day di Indonesia sebenarnya baru mulai ngetren di era 90an. Sangat jauh-jauh ketinggalan dengan perayaan Hari Kasih Sayang di mancanegara yang sudah diproklamirkan tahun 496 SM. So, zaman Majapahit atau zaman Pangeran Diponegoro masih belum gape soal hari romantis ini. Maklum, belum ada koran, majalah, radio, TV atau … internetan.Tapi era globalisasi dan industrialisasi memaksa pelaku-pelaku bisnis ikut mempopulerkan Val Day. Karena ada segmen pasar yang jelas yang bisa dimanfaatkan. Dan tak melulu berharap pada malam pergantian tahun saja. Lihat saja betapa penuhnya cafe bahkan hotel menyambut Val Day. Bahkan di Bali, ada peningkatan signifikan penjualan kondom; sama seperti tahun baru, hanya saja konsumsi bir tidak sebesar malam tahun baru dan malam pengerupukan (sehari sebelum Hari Raya Nyepi).Makanya, jangan heran jika Val day di Indonesiamasih memunculkan pro dan kontra. Kelompok kontra beranggapan inilah cara pelampiasan kasih sayang yang salah kaprah. Suara yang lebih lantang dikumandangkan kelompok Islam yang menganggap umat Islam seharusnya tidak ikut merayakan Hari Valentine karena secara historis ‘hari suci’ itu dimaksudkan mengenang St Valentine. Pemimpin umat Katholik ini dihukum mati oleh Kaisar Claudius II di Roma, 14 Februari 269 M. Namun sebelum dieksekusi, St Valentine sempat menjalin cinta dengan anak sipir penjara.Bisa dipahami jika peringatan atas kematian St Valentine ini semula lebih merupakan ritus keagamaan. Tetapi sejak abad ke-16, aspek religiusnya memudar. Hari Valentine kemudian dihubungkan pula dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi Kuno (disebut Lupercalia) yang jatuh pada tanggal 15 Februari. Pada pesta itu, para pemuda desa selalu berkumpul pada bulan Februari. Mereka menuliskan nama-nama gadis di desanya, dan meletakkannya ke dalam sebuah kotak. Setiap pemuda mengambil salah satu nama dari kotak tersebut. Arisan kaleee…Maka, gadis yang namanya terpilih itu akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun. Pemuda itu pun mengirim sebuah kartu yang bertuliskan “Dengan nama Tuhan Ibu, saya kirimkan kepadamu kartu ini.” Parapemuka Nasrani pada zaman-zaman itu mengalami kesulitan untuk mengubah tradisi tersebut. Akhirnya, diputuskan mengganti kalimat “Dengan nama Tuhan Ibu” menjadi “Dengan nama Pendeta Valentine”, sehingga dapat mengikat para pemuda dengan ajaran Nasrani.Catatan itu bisa menjadi sangat menarik ketika dalam perkembangannya, apa yang dilakukan para pemuda desa itu pun seolah-olah jadi acuan dalam perayaan Valentine, terutama di kalangan anak muda. Selain saling mengucapkan “Selamat Hari Valentine, mereka juga berkirim kartu dan bunga, saling curhat. Ucapan sayang dan cinta tumpah-ruah ketika itu. Terkadang muncul pula tradisi deviatif berupa pertukaran pasangan. Adajuga opini bahwa Hari Valentine menjadi momentum paling afdol untuk mencari pasangan. Cari kesempatan dalam kesempitan (ngelaba). Pesta perayaan, baik massal maupun sekadar berduaan dengan pasangannya, digelar. Tidak heran apabila Valentine sering pula disebut hari milik anak muda dengan segala atribut perayaannya.Kamis 14 Februari 2008 dipastikan bakal muncul kembali penganut maupun penolak tanggal “merah muda” ini. Mungkin siswa-siswa SD di Surabaya bakal kembali mengelar unjuk rasa penolakan (hebat euy…bocah kecil sudah diajari unjuk rasa). Val Day memang tidak bida disamakan denganperayaan tahun baru yang tidak terlalu mengundang kontroversi. Karena secara historis, tidak bersentuhan dengan agama. Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari (tahun syamsiah), sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Sistem penanggalan ini jelas kebalikan dari sistem syamsiah yang dianut umat muslim. Tapi sekali lagi, karena historinya lebih “clear”, perayaan tahun baru lebih dinikmati semua kalangan.Penolak Val Day juga beranggapan bahwa tidak perlu hari khusus untuk kasih sayang karena tiap hari setiap manusia diwajibkan saling menyanyangi sesamanya. Tapi kalo argumen ini dipaksakan, lalu bagaimana dengan Hari Ibu? Haruskah hanya 22 Desember saja mengingat dan berlaku baik pada seorang ibu?Zaman 1985-88, pas sekolah di Trimurti, acara Val Day sebenarnya sudah mulai semarak di Surabaya. Nggakterlalu heboh tapi udah pada ada yang merayakan. At leastdimaksudkan buat pedekateatau ngikuti tren. Saya sendiri baru tahu ada Val Day pas duduki di bangku kelas II-D SMP Negeri I Surabaya, tahun 1984. Pagi-pagi pas istirahat, tiba-tiba Marina Harun dan Linda (where are they now?), dengan wajah berbinar-binar memberi ucapan selamat Valentine. Waktu itu masih ndeso, bingung apa sihValentine itu… Ya, sama seperti bingungnya melihat pro dan kontranya orang-orang zaman sekarang.(UN)HAPPY VALENTINE dehbuat semuanya… 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: