INVESTASI ORI: YA ATAU TIDAK…

Presiden SBY gak perlu bingung soal kandidat calon Gubernur BI yang ditolak DPR. Kalo mau, ada dua stok alumnus SMA Trimurti 88 yang layak kita promosikan; Nur Harjantie dan Satrio Anugroho. Meskipun beda pandangan soal investasi ORI (Obligasi Retail Indonesia), tapi boleh juga pemikirannya diacungi jempol. Siapa yang mo investasi ORI bakal ada landasan berpikirnya. Sebaliknya, siapa yang takut berinvestasi, juga ada argumennya. Topik ORI ternyata juga masuk di dunia maya-nya komunitas Smatri. Berikut ini “talk show” yang sempat muncul di komunitas Ekstrim.

 NUR HARJANTIE:

Investasi ORI menarik karena pembayaran pokok dan bunganya dijamin oleh pemerintah melalui UU No. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara,   dapat diperdagangkan/dialihkan  sebelum jatuh tempo jika kita membutuhkan dana tersebut,  dapat dijaminkan, dan  kupon 9.5%/pa yang dibayarkan secara bulanan. Minimal pembelian Rp 5 juta maksimal Rp 3 milyar per orang.  
Pilihan mau main saham, obligasi atau reksadana tergantung toleransi masing-masing orang. Bagi yang berani mengambil resiko dalam investasi, pasti akan memilih saham. Saham menjanjikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan Obligasi. Fluktuasi harga saham bisa naik/ turun dalam waktu cepat tergantung pada informasi/kebijakan pemerintah yang terkait dengan perusahaan tsbt, situasi ekonomi/politik, dan keuntungan/kerugian dr perusahaan yang sahamnya kita beli. Sedangkan obligasi memang lebih “tenang”  krn menjanjikan keuntungan  yang pasti- sesuai dg tingkat bunga obl tsbt, jadi kalau kupon obligasi saat kita beli  2 th lalu adalah 11%/pa ..maka  kalau saat ini kita punya obligasi tsbt kita akan untung karena suku bunga saat ini rata-rata 7%,  demikian sebaliknya. Dana pokok obligasi akan tetap jumlahnya meski harga obligasi naik turun asal kita tetap pegang obligasi tsbt hingga jatuh tempo. Jadi sesuailah dengan slogan “high risk high return”  he..he.
Kalau untuk reksadana  tergantung dari jenis reksadana yang dipilih, bisa reksadana obligasi, reksadana saham atau reksadana campuran. Reksadana juga pilihan yang menarik bagi mereka yang tidak punya waktu atau  belum terlalu paham pasar modal (saham/obligasi) karena  uang yang diinvestasikan akan di”putar” oleh si Manajer Investasi tersebut untuk jual beli Efek (saham/obligasi/pasar uang). Jadi investor ngga susah-susah ngelola sendiri asetnya tapi serahin saja pada “ahlinya” dengan membeli Reksadana yang dikelola Manajer Investasi tsbt. Perkembangan investasi di reksadana bisa kita ketahui melalui mas media, karena ada kewajiban setiap Manajer Investasi mengumumkan secara harian nilai aktiva bersihnya.  
Sayang lho prens kalau panjenengan semua punya dana tapi hanya disimpan di tabungan …he..he.. promosi rek biar jumlah investor lokal di Indonesia makin banyak..maklum sekarang ini investor asinglah yang mendominasi.

  SATRIO ANUGROHO:

Bagi saya, investasi ke saham itu tetap masuk dalam katagori yang “grey area”.  Kalau kyai bilang: “syubhat” (CMIIW).  Walaupun saya bukan kyai khaos, tapi saya menganggap kebanyakan para pemain saham (investor) ini hanya mencari untung/gain sesaat (jangka pendek).
Seperti detail penjelasan Mbak Nung…., fluktuasi (baca: kenaikan) harga saham ini yang memang dinantikan oleh pemain saham untuk menjualnya kembali dgn memperoleh keuntungan yg signifikan.  Kalau sudah begini…, apa bedanya sama riba & judi?  Kalau termasuk riba & judi… apa hukumnya bukan haram…???
Memang para analis pasar saham akan mengatakan: “ini ada analisa dan hitung2annya”, tapi kalau bukan hitung2an eksakta/ilmu pasti (bangga dikit sebagai alumni Fisika 1)… pasti ada unsur gamblingnya kan…???
Kalau invest ke ORI, memang terjamin…. tapi tujuan utamanya tentu kupon obligasi 7.5%.  Bunga yg lebih tinggi dari bunga deposito… apalagi tabungan konvensional.  Agak nyenggol2 unsur riba nih menurut saya, kalau tujuannya ngejar bunga tinggi.
Saya sendiri jujur juga berinvestasi ke reksadana, tapi itu merupakan produk dari asuransi jiwa yang saya ambil.  Tujuan utama tetap asuransi jiwa untuk proteksi keluarga saya.  Margin berapa pertahun dari asuransi link ini mana saya mau tau…
Pernah ada CSO dari bank yg nawarin saya untuk mindahin sebagian tabungan saya ke deposito.  Dia bilang: “sayang lho pak uang segini ditaruh di tabungan dgn bunga 4.5%, mendingan di deposito saja yg 6%”.
Saya jawab aja: “kalau saya mikirin bunga…, saya udah jadi rentenir aja Mbak… daripada naruh uang di bank ini”.  Hua..ha..ha..  Mending saya dirikan perusahaan kargo dgn teman, bisa memberi penghidupan buat 25 kepala keluarga.
Jadi, jangan takut untuk berbisnis…  kalau bisnisnya nyungsep, paling tidak beberapa orang/keluarga sudah bisa makan dari gajinya di bisnis yg anda coba bangun.  Pahalanya lebih gede daripada ngasih sedekah ke 1 pengemis.
Saya selalu mengingatkan diri sendiri dengan: “how much is enough…?”.
Kalau sudah diingatkan seperti ini…., dijamin keinginan untuk menganak-pinakkan uang anda akan teredam…
Just sharing guys… don’t take it personal.  Everyone can express his own opinion and principle. (jangan tersinggung lho Mbak Nung)

NUR HARJANTIE:

Memang betul apa yang disampaikan oleh Cak Satrio, kalau bicara bunga dikaitkan dengan keyakinan kita sebagai umat Islam, berapapun jumlahnya   entah 4.5 % atau 7.5% itu sudah merupakan riba. Demikian juga kalau kita menerima bunga dari uang tabungan yang kita simpan di Bank konvensional.  Obligasi sendiri tidak akan lepas  dari kupon, sehingga bagi  mereka yang sudah  siap untuk benar2 menerapkan  konsep syariah dalam kehidupan sehari-harinya, maka pilihan Efek Syariah merupakan pilihan yang tepat. Obligasi  yang sudah mempergunakan konsep syariah  yakni dengan konsep mudharabah (bagi hasil) atau ijarah sudah ada di Pasar Modal Indonesia (+ 22 jenis obligasi). Istilahnya adalah Sukuk yang berasal dari bahasa Arab “Sak”. Pemerintah sendiri saat ini sudah didesak oleh para pelaku pasar untuk segera mengeluarkan UU Surat Berharga Syariah Negara, jadi nanti Surat Utang yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak hanya ORI tapi juga ORI Syariah …mudah-mudahan  segera keluar UUnya  sehingga ada dasar bagi pemerintah untuk mengeluarkan ORI Syariah ini. Investor di Timur  Tengah  kabarnya sudah banyak yang antri untuk membelinya jika ada Obligasi (baca Surat berharga) Syariah Negara dikeluarkan. Kemudian  bagaimana untuk saham ? Di Pasar Modal Indonesia pun juga sudah banyak tersedia kok. Bahkan Bapepam LK pun sudah secara rutin mengeluarkan pengumuman Efek apa saja yang termasuk Efek syariah (berdasarkan rekomendasi DSN MUI) silahkan baca informasinya di www.bapepam.go.id. Kriteria Efek syariah diantaranya adalah bidang usahanya tidak mengandung unsur riba (unsur bunga),  Maysir (spekulasi) dan gharar (ketidakpastian), dan akad perjanjiannya tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Trus bagaimana juga dengan mereka yang melakukan spekulasi jual beli dengan mencari keuntungan  sesaat ?  menurut saya untuk tipe investor seperti ini tidak hanya pada investor jual beli saham saja, di property juga ada para spekulan tanah, di pasar  juga ada tengkulak..ada yang kulakan beras, telor untuk dijual kembali. Kalau untuk cari untung dg melakukan jual beli dalam jangka pendek, saya rasa sah-sah saja namanya bukankah  mereka juga butuh likuiditas…yang penting apa yang kita jual ada barangnya (bukan short selling) dan jauh dari unsur spekulasi. Di pasar modal  ada ketentuan yang mengharuskan  setiap investor untuk mengenal lebih dulu produk investasi yang dipilih baik melalui baca di prospektus, sosialisasi, mempelajari Efek dari analisa fundamental dan analisa teknikal , yang semuanya itu akan memberikan pencerahan bagi investor untuk memilih suatu saham/Efek berdasarkan suatu pertimbangan yang matang, dan tidak hanya asal beli saham sambil tutup mata – spekulasi/gambling.  Begitu pendapat saya cak Satrio…  jangan sungkan untuk menanggapi email saya lagi ya.. demikian juga teman2 semua. Bagi saya milis ini kalau bisa menjadi suatu sarana bagi kita semua untuk sharing mengenai apapun yang bermanfaat. Jadi positif dan negatif apapun tanggapan yang ada tetap harus disikapi dengan sikap yang arif…dan jangan khawatir saya  bakalan marah atau tersinggung..suerrr…  J. Sudah makanan sehari-hari saat melakukan sosialisasi ada tanggapan  miring terhadap Pasar Modal, ini  justru menjadi tantangan bagi saya untuk memberikan pencerahan agar tidak salah persepsi mengenai pasar modal Indonesia.  Saya juga muslim kok…  jadi saya terus berupaya agar  Bursa Efek Syariah – pasar Modal Syariah semakin berkibar di negara yang mayoritas penduduknya muslim. Kalau bukan kita siapa lagi…. he..he. 

SATRIO ANUGROHO:
Saya setuju sekali dengan terbuka lebarnya instrumen investasi di negri kita ini. (thanks juga untuk Smatri yg telah mencetak orang2 berkualitas).  Tapi terus terang saya masih kurang bisa menerima instrument investasi seperti Obligasi ini.  Jika negara perlu uang/dana… kenapa sih mesti mencari utangan dari rakyat (baca: pemilik uang banyak).  Cara seperti ini kan jelas2 turunannya kapitalis murni!
Back to 10 years ago, coba pikirkan kenapa negara kita bisa terjerumus ke krisis keuangan dan moneter yang parah…. dan bangkitnya lebih lama dari negara2 Asia lainnya (Korea, Thailand).  Di saat krisis terjadi, kita lihat apa yang dilakukan para ekonom negara… yang terpengaruh kapitalis (IMF, World Bank, dll.).
Mau jadi apa sih bangsa kita ini, jika menyelesaikan masalah hanya dengan gali utang – tutup utang?
Potensi negara ini, dengan kekayaan alamnya dan qualified personnel, sangat berlimpah.  Tapi kita (baca: pengurus negara) lebih sibuk dengan bagaimana mencari utangan (dana tunai) untuk membangun sesuatu… yang pada akhirnya kejeblos dengan pemberi utang tsb (ini yg dinantikan si kreditor kan?).
Lihat saja dengan banyaknya perusahaan2 asing yang masuk ke Indonesia untuk meyakinkan pemerintah bahwa mereka punya uang dan teknologi untuk membangun sesuatu.  Sadarkah kita kalau utangan yang diberikan dengan beribu macam syarat itu pada akhirnya hanya memberatkan rakyat.  Mungkin bukan pada saat utangan diberikan… tapi nanti pada generasi berikutnya pada saat utangnya jatuh tempo.
Let say pada Oil & Gas dan Mining investment di Indonesia.  Perusahaan2 asing tsb menguras isi bumi pertiwi, membawa sebagian besar hasilnya, memberikan sebagian ke pemerintah, dan hanya setitik sisa buat rakyat sebagai pemegang hak atas isi bumi pertiwi.  Suruh pada pulang aja lah para penjajah itu, bangsa kita bisa kok untuk mengelola dan membangun pabrik2 itu sendiri.
Makanya dulu Kwik Kian Gie waktu jadi menteri ngotot untuk memperjuangkan Pertamina sebagai pengelola isi bumi Cepu.  Tapi sang Kapitalis langsung menurunkan orang besarnya ke Bogor untuk menekan para petinggi kita supaya kasih slot untuk MobilOil… kalau tidak mau, gak akan diberi utangan.  Nah kan, balik2nya ke utang lagi deh.
Kenapa sih kita tidak memilih untuk berinvestasi pada memberdayakan sektor real kita yang terpuruk, pengangguran yang menumpuk, daerah pedalaman yang terbelakang?  Kenapa sih kita lebih memilih mengembang-biakkan uang kita pada surat utang maupun instrumen investasi lainnya, yang notabene hanya menguntungkan pribadi2 tertentu.
Memang sih para investor itu akan bilang… “kan uangnya digunakan negara untuk menggerakkan perekonomian kita”.  Coba sadari sekali lagi, apa benar untuk perekonomian rakyat Indonesia atau perekonomian “kita”.
Sudah banyak contoh dari negara kapitalis tersebut yang menyebabkan jutaan orang merana.  Tentu tau dong soal dana supreme mortgage di sektor properti, atau tentang kasus lama soal saham Enron.  Kapitalis murni itu mikirnya “bagaimana cara cari uang dengan menggunakan dan memutar uang orang lain”.
Soal jawaban Ning Nunung soal spekulasi, terus terang saya bingung dengan penjelasannya (in red fonts pada email d bawah).  Kok ingin menjelaskan sesuatu yang Ning anggap benar… tapi malah menggunakan contoh2 yang salah ya..?  Namanya spekulan ya salah… kalo sudah tau salah ya digunakan sebagai perumpamaan dong.
Kalau ditanya: “Bapak Jaksa kok mau menerima uang yang diberikan Tertuduh kasus BLBI?”
Jawabannya: “Soalnya Jaksa2 lainnya juga melakukannya kok.  Malah Bapak Menteri juga kadang2 menerima uang juga.”
he..he..he.. bagaimana kita mau bergerak membenahi negara ini, kalau caranya gak pernah berubah.
Sorry ya… melantur kemana2.  Tapi intinya ada kok di komentar di atas.  Dan bener2 jauh dari attacking personality lho… really hanya menyampaikan unek2 yang gak enak diulek.🙂

NUR HARJANTIE:

Begini cak Satrio dan teman2…Kalau bicara idealnya saya sendiri kurang sreg kalau pemerintah selalu mencari utangan terlalu banyak … maunya kondisi negara ya kayak jaman dulu dimana negara bisa swasembada beras/ swasembada pangan, toh negara ini kan negara yang kaya, gemah ripah loh jinawi…. tapi ironis jika justru kita impor bahan-bahan pokok. Kalau untuk ini saya setuju 100% dengan pendapat cak Satrio. Tapi ini merupakan topik yang berbeda dengan email Cak Satrio diawal yang tidak  setuju dengan konsep bunga di obligasi. Email saya dibawah adalah mencoba memberikan suatu penjelasan dari kacamata berfikir saya selaku praktisi pasar modal, atas email cak satrio diawal yang saya tangkap bahwa investasi obligasi atau efek di pasar modal  lainnya (baca saham) menyalahi konsep2 syariat Islam. Tulisan yang diblok berwarna merah ama Cak Satrio itu adalah uraian saya untuk membandingkan bahwa di sektor lainpun (tidak hanya di pasar modal) akan kita temui adanya oknum-oknum yang mencari keuntungan dari fluktuasi harga yang terjadi. Jadi sorotan cak satrio bahwa sistim fluktuasi di pasar saham yang tidak semestinya terjadi karena oknum-oknum itu sebenarnya dimungkinkan terjadi dimana-mana. Dan itu yang harus dihindari kita (di saham ada analisa2 dst), jadi analog cerita jaksa yang dicontohkan cak Satrio di email berikutnya sepertinya malah jadi kurang pas ya… karena tujuan uraian saya adalah membandingkan dengan sektor lain dan bukan mengambil uraian itu sebagai contoh . Pls baca lagi keseluruhan kalimat saya sebelumnya.Kembali ke topik obligasi negara, mengapa sih negara musti berhutang …? sampai 490 trilyun lagi…(outstanding obligasi negara saat ini) hmmm … apa anak cucu kita akan  diwarisi hutang …? Yang saya ketahui dari penjelasan pejabat Depkeu ..pengeluaran obligasi negara tersebut juga merupakan pemikiran agar negara bisa lepas dari IMF, yang  mulai dikeluarkan mulai tahun 1999 dan hingga akhirnya ind sudah dapat lepas dari hutang IMF …(meski pindah hutangnya ke Obligasi Negara he..he). Ibaratnya daripada berhutang ke asing lebih baik hutang ke negara kita sendiri.  Posisi kita selaku Bursa Efek adalah menyediakan sistim dan atau sarana untuk memperdagangkan Efek yang ada, memberikan berbagai alternatif produk investasi yang dipergunakan bagi pihak yang membutuhkan dana maupun bagi yang mempunyai dana. Siapapun berhak untuk mempergunakan dan memanfaatkan nya asalkan sesuai dan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bursa Efek.  Nah kalau diskusi apa tepat negara mengalihkan utang dari IMF ke Obl Negara itu … wah panjang ceritanya dan bisa dari berbagai sisi cara pandang ..sampai skrg juga banyak para pakar2 ekonomi yang masih pro dan kontra Menurut saya memang idealnya sektor riil lah yang bergerak bukan malah bank-bank naruh uangnya untuk investasi obligasi. negara.. ironis karena sebagai lembaga intermediaries mustinya bank harus menyalurkan kredit ke masyarakat agar ada pembiayaan ke sektor riil.  Dengan banyaknya sektor riil yang bergerak, akan banyak tenaga kerja yang terserap. Jadi memang negara ini banyak membutuhkan  orang2 yang peduli seperti cak Satrio, yang mempunyai dana, mau dan mampu menggerakkkan sektor riil dengan membuat usaha cargo…dll. Betul bahwa  dengan kita menciptakan lapangan kerja maka barokah kita akan selalu mengalir… dan menjadi orang yang bermanfaat  bagi orang lain. Masalahnya tidak semua orang mermpunyai kemampuan yang sama dengan cak Satrio (sense of business nya dalam sektor riil)  tapi sebenarnya mereka punya uang… . Nah  inilah fungsinya untuk saling mengisi dan melengkapi, karena tidak ada manusia yang serba bisa secara sempurna…  Seandainya perusahaan yang didirikan  itu berkembang…dan kemudian membutuhkan dana untuk pengembangan usahanya…. apakah salah kalau akhirnya perusahaan tersebut go publik… dengan mengajak masyarakat untuk turut menjadi pemegang sahamnya. Apakah salah kalau pemegang sahamnya kemudian menjual kembali saham yang dimilikinya  melalui Bursa Efek…. menurut saya tidak (note asal sesuai dg ketentuan yang ada dan khusus orang Islam sesuai dg prinsip jual beli Islam), itulah siklus kehidupan…. Bahwa kita tidak bisa mendoktrin  pemikiran orang lain untuk  harus bergerak disektor riil kalau ternyata orang itu tidak mampu dan mempunyai bakat untuk itu, seperti halnya kita juga tidak bisa mendoktrin pemikiran seseorang  untuk investasi di saham/obligasi. Yang harus dilakukan kita adalah memberikan wacana bagi masyarakat disekitar kita bahwa  keduanya bisa dipilih tentunya yang sesuai dengan kata hati, kompetensi diri dan tentunya sesuai dengan ajaran agama  masing-masing. Demikian, mohon maaf  kalau uraiannya panjang….btw thanks atas segala masukan dan sharing pemikirannya. 

CAK OLAN:

(melongo)…selain nggak paham juga nggak punya duwek

Satu Tanggapan to “INVESTASI ORI: YA ATAU TIDAK…”

  1. Cak Didik Says:

    (sama kayak cak Olan – alias melongo)…….ngerti juga nggak, apalagi punya duwek.
    Tapi lumayan buat bacaan…….siapa tahu semua artikel sudah abis dibaca, bisa dibaca & dipahami 100 tahun lagi. Bingung aku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: