CEPAT SEMBUH CHA…

“Pi..Ocha ikut sholat”… “Pi besok bangun pagi, Ocha ikut subuhan”….”Pi nanti sore ngaji.” Tapi kalimat-kalimat ini sudah satu minggu tidak terdengar dari bibir mungil Ocha (6). Panas, batuk, sedikit pilek dan sakit kepala sudah membuat Ocha bolos sekolah mulai Rabu 8 Agustus 2008. Owh…dia gejala typus.

Dokter RS Sanglah juga cuma ngasih obat-obat biasa; Lapisiv, Celfex Combi dan Sanmol. Gak mempan, lagian obat batuknya gak dipilihin yang expectoran. Padahal ada batuk berdahaknya. Tapi yang bikin was-was, selama tiga hari, demam Ocha masih di kisaran 37-38.5 C.

“Harus tes darah,” kata dr Swastioni dari Klinik SOS. Jussss…jarum menusuk lengan kiri Ocha. “Ini ada gejala typusnya,” kata bu dokter. “Tapi tidak perlu rawat inap,cukup istirahat total 5 hari,” tambahnya sambil menulis resep Tyamicyn dan Interfec.

Kondisi Ocha ternyata masih belum ada progres yang melegakan. Dua hari kemudian, dibawa ke IRD Sanglah lagi (sambil bawa perlengkapan siap-siap opname). Dokter jaga, menyebut hasil tes darah sebelumnya juga menunjukkan trombosit yang rendah. “Ini berarti ada gejala DB juga, apa nggak dijelasin sebelumnya?,” kata dokter RS Sanglah ini.

Untuk lebih pastinya, lagi-lagi jusssssss…giliran lengan kanan diambil darahnya. Hasilnya? Tetap typus dan disebut ada gejala DB, tapi tidak ada penambahan obat sama sekali. Cuma setelah tanya kanan-kiri, depan-belakang, dan browsing di internet, mulai coba nambah konsumsi Vermint, kapsul ekstrak ulat tanah.

Tapi sekujur tubuh Ocha mulai muncul bercak merah. Jauh sebelumnya saya sudah curiga apakah ini campak. Tapi dokter-dokter menyebut bercak ini muncul karena panas. Lagi pula dari tes darah tidak disebutkan soal indikasi campak. Hanya saja belakangan saya tahu kalau trombosit yang turun bisa mengindikasikan campak.

Sehari berikutnya, lagi-lagi siap opname karena Ocha makin lemas dan demamnya tetap stabil 37-38.8C. Ketika melihat bercak yang menyelimuti tubuh Ocha, barulah dokter di RS Sanglah langsung menyebut “Morbili.” Tapi tidak diperlukan rawat inap, hanya rawat jalan. Padahal Ocha dijadwalkan menemani bapaknya pulang ke Surabaya ikut reuni SMA 24 Agustus 2008. Terpaksa …

Entah karena faktor apa yang memicu typus dan campak. Karena sejatinya vaksinasi sudah dilakukan. Kalau soal typus, banyak yang menyebut soal higienitas asupan makanan (jajanan). Atau bisa tertular dari orang lain. Tapi sejak masuk kelas I SD, Juli 2008, Ocha terlalu bersemangat beraktivitas.

Kondisinya makin lemah ketika jam sekolah bertambah dari pukul 11.00 menjadi 12.00 dan kemudian menjadi 14.30. Tapi dia sangat semangat, bahkan jam 15.30 sudah minta ikut belajar ngaji di dekat rumah. Belajar, menyiapkan segalanya sendiri, sudah menunjukkan kemandiriannya. Dia juga mulai “mengajarkan” bapaknya kembali menekuni syariat beragama.

Bahkan aku sempat kaget ketika Selasa 12 Agustus 2008, tiba-tiba dia terbangun dari tidurnya, sambil berseru,”Ya Allah…tolong sembuhkan aku,” ulangnya dua kali.

Cepat sembuh ya Cha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: