NYARIS TEWAS DIDORONG HANTU

Siapa sangka jatuh dari ketinggian kurang dua meter bisa membuat Andisco meregang nyawa. Tangan kirinya patah, darah menucur deras dari kepalanya, dan tidak sadarkan diri selama tiga jam. Bahkan orang-orang mengira dia sudah tewas.

Peristiwanya terjadi pada tanggal 9 bulan 9 tahun 99. Waktu itu alumnus Smatri 88 ini bermaksud melihat timbunan kertas gosok yang akan diborongnya di sebuah gudang tua kota Gresik. Biar lebih leluasa, Andisco mencoba naik ke lantai dua untuk mengamati komoditas yang akan dibelinya.

Suasana gudang memang agak serem. “Saya lupa berdoa dan ‘permisi’ waktu masuk gudang itu,” kenang Andi Ferrianto, nama KTP Andisco. “Lagian saya merasa gudang ini aman-aman saja. Toh saya Cuma di lantai 2 yang tingginya gak sampai 2 meter,” tambah pria yang sudah mengenal piercing di bangku SMA ini.

Tapi apa mau dikata, ketika ada di lantai 2, tiba-tiba Andisco merasa keadaan aneh. Badan lelaki kelahiran 27 Februari 1969 ini tiba-tiba merasa disentakkan oleh angin. Kontan tubuhnya limbung dan terjengkang jatuh. Brraaakkk…darah mengucur deras dari kepalanya. Lengan tangan kirinya, dan dia tak sadarkan diri. Aneh memang, hanya dari ketinggian kurang dari 2 meter, luka yang diderita arek jalan Legundi yang sekarang pindah ke Sidoarjo ini begitu parah. Paling-paling hanya terkilir.

Melihat kondisinya, orang yang menolong pun sempat mengira Andisco sudah tewas. Beruntung masih ada denyut nadi, Andisco pun segera dibawa ke RS Semen Gresik, tapi rumah sakit ini menyarankan supaya dirujuk ke RSUD Dr Soetomo. Akhirnya, setelah meregang nyawa, Andisco berhasil lolos dari maut. “Saya merasakan betapa tipis perbedaan antara hidup dan mati,” kata Andisco sambil menunjukkan sayatan luka di tangannya.

Sejak saat itulah, pria yang kini memiliki dua anak dan ogah poligami ini memilih jalan kehidupan yang lebih dekat dengan Sang Maha Pencipta.

Tag: , , , , ,

7 Tanggapan to “NYARIS TEWAS DIDORONG HANTU”

  1. Cak Di Says:

    Alhamdulillah wa syukurillah….shohib kita masih diberi kesempatan untuk ke jalan lurus.
    Saya teringat masa SMA, kalo kita jalan-jalan naik motor malam mingguan, Andesco selalu meminta daerah target adalah Kenjeran.
    Maklum….dulu…daerah tersebut terkenal tempat mangkal (@#$*&%).
    Dan Andesco selalu cerita tentang remang-remang gerbong-gerbong yang parkir di sekitar belakang rumahnya.
    Kebo adalah anak didik Andesco yang paling utama.
    Semoga keluarganya Sakinah, Mawadah, Wa Rohmah…Amien

  2. CJ UWI Says:

    yayya Cak Ndisco emang penyuka Yamaha sayang sekarangberalih pandangan ke Honda….. wajah arek sby yang uasli sangaree haha hahahhhaaaa

  3. Ambon Says:

    Waaa … aku inget waktu SMA dulu pernah diajak ke Irian Barat ama Andysco sehabis pulang dari acaranya sapa (lupa). Selain kita ada temen2 yg lain (Smatri n temen Andy sendiri), Baru beberapa menit berhenti di sana … eee tiba2 ada obrak-an oleh pak polisi, padahal temennya Andy lagi endehoi ama banci di pinggiran sungai. Akhirnya kita ngacir aja ninggalin temennya n sepeda motornya. Seumur2 baru itu aja diobrak polisi … malu kalo inget2 itu.

  4. tukang santet Says:

    wah,keren-keren…….jadi punya cerita neh…bwt man teman

  5. tukang santet Says:

    wah,keren-keren…….jadi punya cerita neh…

  6. andisco Says:

    terima kasih atas komentarnya semoga saya dan keluarga tambah maju……..
    oh ya kalau ada apa2 jangan lupa kirim kabar ke emailku yach…
    ramdi_sisit@yahoo.com
    ato ke hp 08123219329
    maaf yach kemarin tidak ikut reuni karena ada kepentingan keluarga….

  7. bangdatuak Says:

    ini beneran kejadian bang…..?????

    subhanallah…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: